“Bandara merupakan tempat yang identik
dengan manusia yang melakukan penerbangan menggunakan pesawat. Lantas apa
yang dilakukan kerbau –kerbau di Bandara Internasional Lombok ?” Sedikit mengherankan memang jika kita
melihat pemandangan yang terjadi di Bandara Internasional yang berada di Desa
Tanak Awu ini.
Jika dibanding
dengan bandara – bandara pada umumnya, Bandara Internasional Lombok ini
sedikit berbeda. Mungkin ini dikarenakan oleh masyarakat di sekitar bandara
ini masih terbilang primitive. Sebagian besar penduduknya merupakan kaum
peternak. “Bandara Internasional bukan
berarti masyarakat disekitar bandara
merupakan masyarakat internasional, “ terang Sumarto, Pelaksana Muda Angkasa
Pura.
“yang
membedakan bandara itu internasional atau tidak adalah adanya perbedaan rute
penerbangannya,“ lanjutnya.
Mengingat Sumber
Daya Manusia (SDM) masyarakat setempat yang terbilang masih terbelakang,
menjadikan staff – staff Angkasa Pura sedikit memberi celah kesempatan pada
penduduk sekitar. Bukan berarti staff – staff Angkasa Pura Bandara
Internasional Lombok ini sama sekali masyarakat sekitar panen, peternak dapat
membawa hewan – hewan ternaknya merumput disawah – sawah. Namun jika musim
tanam padi seperti saat ini, tak ada pilihan lain bagi mereka. Ini merupakan
satu – satunya lapangan rumput.
“kalau bandara
ini sudah dibangun secara keseluruhan, dengan sendirinya kami akan pergi,”
kata seorang peternak yang kami temui. Mereka mengaku sudah cukup bosan
mendengar peringatan yang dilakukan pihak Bandara. Sampai saat ini, yang
menjadi satu – satunya tanggapan mereka adalah “bangun dulu secepatnya
bandara ini, baru kami pergi.” Memang tidak mudah bagi peternak – peternak
disana dalam menerima kenyataan ini.
Bertahun – tahun mereka menjadikan tempat ini sebagai habitat ternak – ternak
mereka. “kalau ada tempat lain, ya kita cari tempat lain. Tapi
.
|
memberikan kebebasan pada
pemilik ternak. Upaya – upaya telah banyak dilakukan. Peringatan kepada
pemilik ternak sudah terbilang sering. Ini berlandas pada UU No. 1 Tahun 2009
yakni, “memasuki kawasan bandara tanpa izin merupakan pelanggaran hukum.”
Sejauh ini
peringatan yang diberikan masih lembut, ini bermaksud untuk menghindari
pembentrokan masyarakat disekitar BIL. Selain dengan memberikan peringatan
secara langsung, staff – staff Angkasa Pura juga melakukan pelatihan
berwirausaha kepada masyarakat sekitar, seperti mengadakan pelatihan tat
arias dan menjahit. Ini tidak lain bermaksud untuk meningkatkan kualitas
masyarakat. “diharapkan masyarakat
juga bisa merasakan perkembangan hidup dengan adanya bandara internasional
ini,” tukas penyelenggara Angkasa Pura angkatan 2011 ini.
Sebesar apapun
yang dilakukan pihak Bandara Internasional Lombok tersebut, tentu membutuhkan
dukungan dari masyarakat setempat. Dan ini bukanlah hal yang mudah. Mengingat
sebelum dibangunnya bandara ini, peternak dibebaskan merumput disini sejak
zamannya Soeharto. Mungkin pada saat masa setelah sayangnya semua tanah
disini sekarang sedang ditanami padi,”
jawab bapak Suhanan dengan logat pujutnya.
 Jika sudah
begini, pihak bandara kembalipada focus “Internasional” mereka. Menjadikan
Bandara Internasional Lombok ini menjadi pertemuan roda – roda antara Taxi,
Bus, Mobil, Pesawat antardaerah dan Negara serta sepeda motor. Dimana tujuan
utamanya adalah melakukan pengiriman barang maupun penerbangan seseorang yang
berskala Internasional. Yang penerbangannya mencapai seluruh dunia. Masalah
kerbau – kerbau tersebut, pihak bandara menyakini semua butuh proses. Selama
penerbangan tidak terganggu dan pengunjung belum ada yang komplin, kerbau –
kerbau tersebut masih bisa Check – In di Bandara Internasional Lombok, walau
papan peringatan bertuliskan “TERNAK DILARANG MASUK” yang berdiri dengan
gagahnya.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar